PELATIHAN PETUGAS PUSKESMAS BER-ISO

()
Dinas Kesehatan Kota Surabaya

dr. Esty: Jangan Marah, Anggap Saja Sebagai Masukan

3 Maret 2010

Surabaya, eHealth. Gedung serba guna Dinas Kesehatan Kota Surabaya kali ini diisi sekitar 40-an pegawai Puskesmas ber-ISO yang memiliki tugas untuk mengurus Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). Sebuah survey untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap jasa yang telah diberikan. Demi mendapatkan hasil survei yang lebih akurat dan valid, maka untuk kesekian kalinya, Qomarudin Pendamping ISO melatih petugas-petugas Puskesmas tersebut mengenai IKM.

Bagai memasuki sebuah ruang kelas di bangku perkuliahan, suasana gedung serba guna pagi itu terasa sunyi. Petugas Puskesmas tersebut duduk di bangku yang telah disediakan sambil tertunduk mencatat setiap penjelasan yang dilontarkan oleh Qomar yang didominasi penjelasan secara umum mengenai statistik dan rancangan analisis menyangkut sebuah penelitian, termasuk dalam melakukan survei IKM.

Dosen research Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu memaparkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk melakukan survei. Mulai dari jenis rancangan survei hingga pelaku yang menyebarkan lembar survei kepada responden terkait.

Rancangan survei yang digunakan untuk IKM pada Puskesmas ber-ISO adalah cross sectional. Sedangkan untuk jenis analisis datanya terdapat tiga jenis yang dapat diterapkan, diantaranya analisis deskriptif/univariat, analitik bivariat, dan analitik multivariat.

Tata cara untuk mengambil data pun perlu dipertimbangkan seperti persyaratan inklusi seperti kesediaan untuk menjadi responden. “Orang itu bersedia atau tidak (menjadi responden), dan harus yang update,” ujar Qomar. Ia melanjutkan bahwa syarat menentukan responden harus diperhatikan dengan seksama karena dapat mempengaruhi hasil survei, contohnya responden update. “Maksudnya (responden update) adalah untuk IKM Puskesmas ber-ISO, berarti responden pernah mengunjungi Puskesmas minimal pada 3 bulan terakhir,” imbuhnya.

Ia juga menuturkan bahwa standar yag digunakan dalam pengambilan data digunakan standar WHO dan juga menyesuaikan konsep survei dari Menpan (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Esty Martiana Rachmie, saat memberikan sambutan menjelaskan bahwa tuntutan masyarakat tidak akan pernah berhenti. “Walau Puskesmas sudah ber-ISO tetap saja ada kritik seperti contohnya ‘dandanan pegawai itu terlalu menor’,dan berbagai kritik lainnya” jelas ibu tiga anak ini yang kemudian disambut tawa dari para undangan. “Jangan marah, anggap saja sebagai masukan karena apa yang kita lakukan tidak pernah cukup. Kita dituntut untuk terus lebih baik,” lanjutnya.

Ia pun menuturkan bahwa masyarakat yang dihadapi di Puskesmas merupakan masyarakat yang dalam kondisi ‘tidak senang’ dalam artian umumnya mengalami kesusahan, sakit dan memiliki banyak keluhan. Masyarakat yang memiliki keluhan, seperti yang dituturkan dr. Esty, umumnya sensitif, minta didahulukan, dan minta dilayani dengan sebaik-baiknya.

Melalui pelaksanaan survei IKM yang lebih baik dan lebih terarah, maka data yang dihasilkan akan lebih valid untuk kemudian dijadikan bahan evaluasi menjadi Puskesmas dengan standari ISO yang terus melakukan proses melayani lebih baik.(Fie)